Bukan Sekadar Penunjang Gaya, Smartwatch Dinilai Penting Jaga Keamanan Saat Lari

Bukan Sekadar Penunjang Gaya, Smartwatch Dinilai Penting Jaga Keamanan Saat Lari

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Tren olahraga lari yang kian populer di tengah masyarakat turut mendorong meningkatnya penggunaan smartwatch sebagai pendamping latihan. Namun, di balik fungsinya yang semakin canggih, perangkat ini seharusnya dimanfaatkan sebagai alat keselamatan, bukan sekadar penunjang gaya hidup. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Muhammad Ariffudin, Sp.OT. dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sekaligus dokter spesialis ortopedi.

Dalam wawancara di FKIK UMY pada Rabu (7/1), dr. Ariffudin menjelaskan bahwa fitur paling krusial pada smartwatch bagi pelari adalah heart rate monitor atau pemantau denyut jantung. Menurutnya, pemantauan denyut nadi jauh lebih penting dibandingkan fitur lain yang sering kali tidak sepenuhnya akurat.

“Smartwatch sangat membantu jika digunakan dengan benar. Yang paling utama diperhatikan adalah denyut jantung, bukan sekadar jarak atau kecepatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa denyut jantung dapat menjadi indikator kesiapan tubuh sebelum memasuki latihan inti. Setelah pemanasan yang optimal, denyut jantung umumnya berada pada kisaran 100 denyut per menit, yang menandakan tubuh siap beraktivitas dengan intensitas lebih tinggi.

Selain itu, smartwatch juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Ketika denyut jantung melewati ambang batas aman, notifikasi yang muncul dapat menjadi sinyal bagi pelari untuk segera menurunkan intensitas latihan.

“Jika denyut nadi sudah terlalu tinggi dan muncul peringatan, itu tanda tubuh harus diberi jeda. Jangan dipaksakan, karena risiko paling serius dari olahraga berlebihan adalah gangguan jantung,” tegasnya.

dr. Ariffudin menyoroti kebiasaan pelari pemula yang kerap memaksa tubuh demi mengejar target jarak atau waktu tertentu. Tanpa pemantauan denyut jantung yang baik, kondisi ini berpotensi memicu peradangan, kelelahan berlebih, hingga cedera serius pada otot dan sendi.

Ia menegaskan bahwa smartwatch seharusnya diposisikan sebagai alat bantu keselamatan, bukan sekadar sarana untuk memamerkan capaian olahraga di media sosial. Meski demikian, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.

“Smartwatch bukan untuk pamer sudah lari berapa kilometer, tetapi untuk memastikan latihan aman dan berkelanjutan. Bagaimanapun, teknologi hanya alat bantu. Kuncinya tetap pada kesadaran diri, latihan bertahap, dan tidak berlebihan,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait