KucingMu, Upaya Muhammadiyah Merawat Kesejahteraan Hewan melalui Pendekatan Bioetika dan One Health

KucingMu, Upaya Muhammadiyah Merawat Kesejahteraan Hewan melalui Pendekatan Bioetika dan One Health

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Kepedulian terhadap hewan menjadi bagian dari tanggung jawab umat manusia yang perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Berangkat dari kesadaran tersebut, Kucing Muhammadiyah (KucingMu) hadir sebagai gerakan komunitas yang mengintegrasikan dakwah, kesehatan, dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan.

Gagasan tersebut disampaikan Afghan Azka Falah, S.Si., M.Bio.Et., alumnus Magister Bioetika Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Inisiator KucingMu, dalam webinar yang diselenggarakan oleh Center for Medical Bioethics and Humanities (CMBH) UGM, Rabu (4/11). Dalam pemaparannya bertajuk Bioetika Kesejahteraan Hewan Kesayangan: Tinjauan Etika Normatif dan Hubungan Manusia-Hewan, Afghan menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan hewan telah berkembang dari relasi yang bersifat fungsional menjadi ikatan sosial dan emosional.

Menurutnya, bioetika tidak hanya berbicara mengenai kesehatan manusia, pelayanan medis, dan etika penelitian. Ruang lingkup bioetika juga mencakup hubungan manusia dengan makhluk hidup lainnya, termasuk hewan.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin banyaknya orang yang menjadikan hewan peliharaan sebagai bagian dari keluarga. Namun, tingginya ikatan emosional tidak selalu berbanding lurus dengan pemenuhan kesejahteraan hewan.

"Kelekatan yang tinggi belum tentu berarti etika pemeliharaannya baik. Tanpa literasi kesejahteraan hewan, kasih sayang justru bisa menjadi maladaptive attachment, yakni bentuk kelekatan yang tidak tepat," jelasnya.

Afghan memaparkan hasil penelitiannya terhadap 186 pemilik hewan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kelekatan pemilik terhadap hewan peliharaan cenderung berada pada kategori sedang hingga tinggi. Sebanyak 92 persen responden bahkan menganggap hewan peliharaan sebagai bagian dari anggota keluarga.

Temuan itu memperlihatkan bahwa hewan tidak lagi sekadar dipelihara untuk fungsi tertentu, tetapi telah menjadi pendamping yang memberikan kenyamanan emosional bagi manusia.

Meski demikian, Afghan mengingatkan bahwa kasih sayang perlu disertai pemahaman terhadap kebutuhan dan karakteristik alami hewan. Ia mencontohkan praktik animal hoarding, yakni menampung hewan dalam jumlah besar tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Tindakan yang berangkat dari rasa kasihan tersebut justru dapat berujung pada penelantaran.

Dalam konteks tersebut, KucingMu menjadi salah satu bentuk gerakan nyata untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan.

Afghan menjelaskan, KucingMu pada awalnya terbentuk melalui proses yang tidak direncanakan. Namun, seiring meningkatnya perhatian dan antusiasme masyarakat, gerakan tersebut kemudian dikembangkan bersama komunitas, Muhammadiyah tingkat wilayah, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Salah satu kegiatan yang pernah dilaksanakan adalah pemeriksaan kesehatan kucing secara gratis pada 5 Juli, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Zoonosis Sedunia. Kegiatan tersebut menjadi ruang pelayanan kesehatan hewan sekaligus edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan peliharaan.

Menurut Afghan, penyelenggaraan kegiatan sosial kesehatan hewan membutuhkan perhatian khusus, termasuk perizinan dan rekomendasi dari organisasi profesi serta dinas terkait. Hal ini mencakup kegiatan pemeriksaan kesehatan, pemberian obat dan vitamin, hingga sterilisasi.

KucingMu juga menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin dan profesi. Kegiatan yang dilaksanakan melibatkan apoteker, mahasiswa farmasi, mahasiswa kedokteran hewan, teknologi veteriner, keperawatan, hingga kesehatan masyarakat.

Kolaborasi tersebut merupakan penerapan pendekatan One Health, yakni paradigma yang melihat keterhubungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

"Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat belajar bahwa kesehatan manusia dan kesehatan hewan sama-sama bisa digarap dengan paradigma pelayanan medis, tentu dengan menyesuaikan aturan profesi masing-masing," papar Ketua Bidang Kesehatan DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah DI Yogyakarta itu.

Selain pelayanan kesehatan, KucingMu juga memperkenalkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Kucing Muhammadiyah sebagai bentuk pengakuan terhadap identitas hewan peliharaan. Melalui identitas tersebut, hewan tidak hanya dipandang sebagai objek kepemilikan, tetapi juga sebagai makhluk hidup yang memiliki kebutuhan spesifik dan perlu mendapatkan perlakuan yang layak.

Afghan menilai pengembangan identitas hewan atau animal ID dapat menjadi salah satu referensi dalam membangun kebijakan perlindungan dan kesehatan hewan di Indonesia. Sejumlah negara, seperti Denmark, Belanda, Turki, dan Hong Kong, telah menerapkan sistem identifikasi hewan melalui mikrocip maupun kartu identitas.

Lebih jauh, Afghan menjelaskan bahwa pengembangan KucingMu diarahkan pada upaya promotif, preventif, hingga advokasi. Saat ini, KucingMu telah mengembangkan aplikasi berbasis web yang dapat diakses melalui kucingmuonline.kucingmu.online.

Platform tersebut diharapkan dapat mendukung upaya mitigasi berbagai persoalan kesejahteraan hewan, mulai dari penelantaran, kekerasan terhadap hewan, hingga praktik pemeliharaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan hewan.

KucingMu juga merencanakan kegiatan pengawasan atau surveillance secara berkala di sejumlah kampus, termasuk UGM dan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Di tingkat kelembagaan, gerakan ini turut mengadvokasikan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai pentingnya membangun jaringan profesi veteriner di lingkungan Muhammadiyah. Menurut Afghan, langkah tersebut menjadi peluang pengembangan dakwah dan pelayanan kesehatan karena Muhammadiyah telah memiliki banyak fasilitas pelayanan kesehatan manusia, tetapi belum memiliki jaringan klinik hewan yang terintegrasi.

Dalam pemaparannya, Afghan menegaskan bahwa kesejahteraan hewan harus diukur berdasarkan kebutuhan objektif, bukan semata-mata perasaan sayang dari pemiliknya. Salah satu kerangka yang dapat digunakan adalah Five Freedoms atau lima prinsip kebebasan hewan, meliputi bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku alami, serta bebas dari rasa takut dan tekanan.

Prinsip tersebut perlu diintegrasikan dengan pendekatan One Health agar upaya menjaga kesehatan manusia juga memperhatikan kesehatan hewan dan kelestarian lingkungan.

Menurutnya, kepedulian terhadap hewan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjaga harmoni kehidupan. Dalam perspektif bioetika, manusia tidak cukup hanya merasa memiliki atau menyayangi hewan, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan dan menjamin kesejahteraannya.

Afghan menutup pemaparannya dengan mengutip hadis riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud yang mengajarkan manusia untuk menyayangi makhluk di bumi agar mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT.

Pesan tersebut sekaligus menjadi landasan moral bahwa kepedulian terhadap hewan bukan sekadar persoalan hobi atau kecintaan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab etis manusia terhadap sesama makhluk hidup.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait