Herbal Antikanker Jadi Harapan Baru di Tengah Kasus Kanker yang Terus Meningkat
Kesehatan - Kasus kanker terus menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Data World Health Organization (WHO) tahun 2024 mencatat lebih dari 20 juta kasus baru di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 9,7 juta jiwa. Di Indonesia, kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung dan stroke.
Dosen Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. apt. Rifki Febriansah, M.Sc., menekankan pentingnya pemanfaatan herbal sebagai upaya pencegahan sekaligus terapi pendamping dalam pengobatan kanker. Menurutnya, tren kenaikan pasien kanker harus disikapi serius, tidak hanya oleh tenaga medis tetapi juga oleh masyarakat luas.
“Fenomena pasien kanker ini setiap tahun semakin banyak. Karena itu perlu peran serta tenaga kesehatan, dosen, dan pihak lain untuk membantu menekan jumlah penderita maupun memperbaiki kondisi pasien. Bahan alam bisa menjadi salah satu jawaban karena banyak penelitian menunjukkan herbal dapat membantu mencegah sekaligus meringankan kanker,” ungkap Rifki saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (6/10).
Ia menjelaskan, sejumlah tanaman herbal lokal terbukti mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat melawan kanker. Rimpang seperti temulawak, kunyit, dan jahe kaya akan kurkumin yang berkhasiat sebagai antikanker. Sayuran seperti kubis dan brokoli mengandung sulforafan, sementara tanaman liar seperti ciplukan memiliki fisalin yang dapat menekan pertumbuhan sel kanker.
“Herbal di sekitar kita sebenarnya sangat banyak yang bermanfaat. Contohnya temulawak, kunyit, jahe, lalu kubis, brokoli, jeruk, hingga ciplukan yang tumbuh liar di kebun. Semua ini sudah terbukti dalam berbagai penelitian, termasuk riset yang kami lakukan di Prodi Farmasi,” jelasnya.
Meski demikian, Rifki menekankan herbal bukanlah pengganti terapi medis, melainkan sebagai pendamping. Pengobatan kanker tetap harus komprehensif sesuai anjuran dokter. Herbal dapat dikonsumsi dengan jeda waktu 2–3 jam setelah pasien minum obat medis, sehingga manfaatnya bersifat komplementer.
“Herbal lebih tepat disebut terapi penyerta. Obat dari dokter tetap wajib dikonsumsi, tetapi herbal bisa membantu memperkuat efeknya. Aman dikonsumsi jika diberi jeda waktu dua sampai tiga jam setelah obat kimiawi diminum,” paparnya.
Mengenai cara konsumsi, herbal bisa dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, mulai dari lalapan segar seperti kubis atau brokoli, dibuat jus, hingga dalam bentuk ekstrak kapsul atau tablet. Namun, Rifki mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas herbal.
“Yang pertama, pastikan jenis tanamannya benar. Kedua, perhatikan kebersihannya agar tidak tercemar pupuk kimia atau pestisida. Dan ketiga, cara pengolahannya harus tepat. Beberapa senyawa bisa rusak jika dipanaskan terlalu lama, jadi sebaiknya dikonsumsi segar atau dibuat jus agar manfaatnya lebih optimal,” pesannya.
Rifki berharap edukasi mengenai herbal antikanker semakin gencar disebarluaskan kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bergantung pada obat kimia, tetapi juga dapat memanfaatkan kekayaan alam Indonesia sebagai pendukung kesehatan. (NF)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow