Puasa Saat Ramadan bagi Pasien Diabetes, Ini Syarat Medisnya

Puasa Saat Ramadan bagi Pasien Diabetes, Ini Syarat Medisnya

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Bulan Ramadan menjadi momen ibadah yang dinantikan umat Muslim, termasuk bagi masyarakat dengan riwayat diabetes. Namun, keputusan untuk berpuasa tidak bisa diambil sembarangan. Diperlukan pertimbangan medis yang matang guna memastikan keamanan pasien.

Hal tersebut disampaikan dr. Wahyu Tri Kurniawan, Sp.PD., dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sekaligus dokter spesialis penyakit dalam di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Menurutnya, keamanan puasa sangat bergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien.

“Puasa pada penderita diabetes sebenarnya bisa saja dilakukan, tetapi harus dalam kondisi terkontrol. Kami menilai terlebih dahulu tingkat risikonya melalui stratifikasi. Jika risikonya rendah, biasanya masih diperbolehkan berpuasa. Namun apabila termasuk kategori sedang atau tinggi, umumnya kami sarankan untuk tidak berpuasa karena potensi komplikasinya lebih besar,” jelas dr. Wahyu, Kamis (26/2), secara daring.

Dalam praktik kedokteran, terdapat proses stratifikasi risiko untuk mengelompokkan pasien dalam kategori rendah, sedang, atau tinggi. Penilaian ini mempertimbangkan kontrol gula darah serta riwayat kesehatan secara menyeluruh.

Dokter akan mengevaluasi berbagai faktor, mulai dari lama menderita diabetes, riwayat gula darah yang pernah terlalu tinggi atau rendah, jenis obat yang digunakan termasuk insulin, adanya komplikasi, usia, hingga kondisi khusus seperti kehamilan.

“Penentuan kategori risiko tidak bisa diputuskan sendiri oleh pasien. Harus melalui pemeriksaan dan konsultasi medis,” tegasnya.

Menurut dr. Wahyu, terdapat tiga komplikasi utama yang perlu diwaspadai penderita diabetes saat berpuasa, yakni dehidrasi, hipoglikemia (gula darah rendah), dan hiperglikemia (gula darah tinggi). Ketiganya dapat berujung serius apabila tidak segera ditangani.

Hipoglikemia terjadi ketika gula darah berada di bawah 70 mg/dL, biasanya ditandai dengan tangan gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, hingga penurunan kesadaran.

Sementara hiperglikemia umumnya terjadi saat gula darah di atas 300 mg/dL, dengan gejala rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, lemas, mual, dan nyeri perut.

“Jika muncul gejala-gejala tersebut, jangan dipaksakan untuk melanjutkan puasa,” tegasnya.

Wahyu menjelaskan, prinsip gizi bagi pasien diabetes selama Ramadan pada dasarnya sama seperti hari biasa. Komposisi makanan tetap harus lengkap dan seimbang, hanya waktu serta porsinya yang disesuaikan.

“Komposisinya harus mencakup karbohidrat kompleks, protein, serat, lemak sehat, serta cairan yang cukup. Saat puasa, kebutuhan harian bisa dibagi sekitar 30–40 persen saat sahur, 40–50 persen saat berbuka, dan 10–20 persen untuk camilan sehat setelah tarawih. Jangan berlebihan dan hindari ‘balas dendam’ saat berbuka,” ujarnya.

Selain itu, konsumsi obat juga perlu disesuaikan. Obat diabetes secara umum terbagi dalam tiga kelompok besar: insulin, obat berisiko menyebabkan hipoglikemia seperti golongan sulfonilurea, serta obat dengan risiko hipoglikemia rendah seperti metformin. Jadwal konsumsi maupun penyuntikan harus menyesuaikan waktu sahur dan berbuka, serta tetap di bawah pengawasan dokter.

“Puasa adalah ibadah yang mulia, tetapi kesehatan tetap harus diutamakan. Jangan dipaksakan jika berisiko. Jika sudah dinyatakan aman oleh dokter, jalankan dengan disiplin, jaga pola makan, dan patuhi aturan obat agar tidak terjadi komplikasi,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait