Psikolog Muhammadiyah Kritisi Klaim Indonesia Negara Paling Bahagia

Psikolog Muhammadiyah Kritisi Klaim Indonesia Negara Paling Bahagia

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Klaim Indonesia sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia dinilai perlu ditelaah secara lebih kritis. Psikolog RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mufliha Fahmi, M.Psi., Psikolog. menegaskan bahwa indikator yang digunakan dalam pemeringkatan global bukan semata-mata mengukur happiness (kebahagiaan), melainkan konsep flourishing yang memiliki cakupan makna lebih luas.

“Flourishing tidak sama dengan happiness. Kebahagiaan hanya sebagian dari kebermaknaan hidup. Flourishing mencakup relasi sosial, makna hidup, tujuan, hingga kontribusi individu dalam masyarakat,” jelas Mufliha dalam Pengajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (25/2).

Ia menjelaskan, Indonesia memang memiliki skor tinggi dalam dimensi nonmaterial seperti makna hidup, relasi sosial, dan religiositas. Namun pada indikator kepuasan finansial, kesehatan fisik, serta kesehatan mental, nilainya relatif lebih rendah.

Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi kebahagiaan kolektif dan realitas kesejahteraan psikologis masyarakat.

Mufliha mengaitkan fenomena tersebut dengan dinamika sosial yang berkembang, termasuk meningkatnya ekspresi ketidakbahagiaan di media sosial, terutama di kalangan generasi muda dan kelas pekerja. Ia menilai, ekspresi tersebut bukan sekadar keluhan emosional, melainkan kebutuhan akan validasi sosial dan ruang aman untuk menyalurkan tekanan psikologis.

Ia juga menyoroti data kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman yang hingga Februari 2026 telah mencapai empat hingga lima kasus, lebih dari separuh total kasus sepanjang 2025.

“Padahal ini baru bulan Februari, belum genap satu tahun. Artinya, ada persoalan kesejahteraan psikologis yang tidak bisa diabaikan,” imbuhnya.

Meski demikian, Mufliha menegaskan bahwa kebahagiaan tidak sepenuhnya boleh digantungkan pada situasi politik atau kebijakan negara. Ia mengajak masyarakat membangun ketahanan psikologis melalui penerimaan diri, pengelolaan emosi, serta sikap aktif dalam menghadapi tantangan hidup.

“Kebahagiaan bukan berarti tidak ada kesedihan atau kekecewaan. Kebahagiaan adalah bagaimana kita merespons keadaan tanpa menyerahkan kendali batin sepenuhnya pada situasi eksternal,” jelasnya.

Di tengah tekanan ekonomi, polarisasi politik, dan derasnya arus informasi digital, perubahan perspektif tentang makna bahagia menjadi semakin penting. Mufliha merujuk pemikiran filsuf Al-Farabi bahwa kebahagiaan individu tidak akan utuh tanpa kebahagiaan sosial.

Dalam konteks tersebut, kesejahteraan psikologis masyarakat bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif, termasuk para pemimpin dan otoritas moral untuk menciptakan lingkungan yang sehat secara sosial maupun mental.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait