Meningkatnya Kasus Resistensi Antibiotik di Indonesia: Penyebab, Dampak, dan Solusi

Meningkatnya Kasus Resistensi Antibiotik di Indonesia: Penyebab, Dampak, dan Solusi

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Kasus resistensi antibiotik di Indonesia terus meningkat dan menimbulkan kekhawatiran serius. Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), apt. Rima Erviana, M.Sc., Ph.D., mengingatkan bahwa kondisi ini dapat menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat apabila tidak segera dikendalikan.

Rima menjelaskan bahwa resistensi antibiotik kini ditemukan pada berbagai bakteri penyebab infeksi, dengan angka kejadian yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau dilihat datanya, 1 dari 6 infeksi bakteri sudah menunjukkan resistensi. Beberapa bakteri seperti Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae resistensinya bahkan lebih dari 40%. Sedangkan Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus sudah mencapai 50%,” ujarnya saat ditemui di UMY, Jumat (21/10).

Menurutnya, situasi menjadi semakin berbahaya ketika infeksi berkembang menjadi sepsis, yaitu kondisi ketika bakteri masuk ke aliran darah dan menyerang berbagai organ penting. Pada tahap tersebut, risiko kematian meningkat drastis karena pengobatan menjadi jauh lebih sulit.

Penggunaan Antibiotik di Peternakan dan Kebiasaan Warga Jadi Pemicu

Rima juga menyoroti penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol di sektor peternakan, terutama pada hewan seperti ayam potong. Pemberian antibiotik untuk mempercepat pertumbuhan hewan ternak turut mendorong munculnya bakteri yang kebal terhadap obat.

Selain itu, kebiasaan masyarakat yang masih sering membeli antibiotik tanpa resep dokter semakin memperburuk situasi. Banyak orang keliru menganggap antibiotik sebagai obat serbaguna untuk segala jenis penyakit, padahal tidak semua keluhan memerlukan antibiotik.

“Kadang orang cepat sembuh bukan karena antibiotiknya, tapi karena daya tahan tubuhnya memang sudah bekerja. Jadi tidak semua keluhan perlu antibiotik,” jelasnya.

Kesalahan lain yang kerap dilakukan adalah menghentikan konsumsi antibiotik sebelum dosis yang ditentukan habis. Tindakan ini justru memberi kesempatan bagi bakteri untuk bertahan dan berkembang menjadi lebih kuat serta kebal terhadap obat.

Perlu Langkah Menyeluruh untuk Mengendalikan Resistensi

Rima menegaskan bahwa upaya menekan resistensi antibiotik harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengawasan penggunaan antibiotik di fasilitas kesehatan hingga perubahan perilaku masyarakat. Penggunaan antibiotik yang tepat, sesuai indikasi dan dosis dokter, adalah kunci untuk mencegah resistensi di masa mendatang.

“Edukasi publik sangat penting. Jika mendapat antibiotik dari dokter, harus dihabiskan sesuai resep. Tidak boleh berhenti di tengah jalan, dan jangan pernah menggunakan antibiotik tanpa resep,” tegasnya.

Ia berharap peningkatan kesadaran masyarakat dapat membantu mengendalikan laju resistensi antibiotik di Indonesia sehingga efektivitas obat-obatan penting ini dapat tetap terjaga bagi generasi mendatang. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait