RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping Lantik Direksi Periode 2025–2029
SLEMAN — Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping resmi melantik jajaran direksi untuk masa jabatan 2025–2029. Prosesi pelantikan dan pengukuhan berlangsung di Convention Hall Gedung Erwin Santosa, Kompleks RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Rabu (17/12).
Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping, Budi Setiawan, S.T. membacakan Surat Keputusan pengangkatan direksi. Prosesi pelantikan dipimpin oleh Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S.
“Apakah saudara-saudara bersedia mengemban amanah jabatan ini?” tanya Agus kepada jajaran direksi.
“Bersedia!” jawab seluruh direksi secara serempak.
Berikut ini susunan direksi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping periode 2025-2029:
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
- Direktur Utama: dr. H. Mohammad Komarudin, Sp.A
- Direktur Pelayanan: dr. Safiqulatif Abdillah, MMR., Sp.PA
- Direktur Umum dan Keuangan: Ahmad Mukhlis, S.E., MARS
- Direktur SDI dan AIK: H. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog
RS PKU Muhammadiyah Gamping
- Direktur Utama: dr. H. Ahmad Faesol, Sp.Rad., M.Kes., MMR
- Direktur Pelayanan: dr. Masykur Rahmat, MARS
- Direktur Umum dan Keuangan: drg. Hj. Indria Nehriasari, Sp.BM., M.Kes
- Direktur SDI dan AIK: Cahyono, S.Ag
- Direktur Pendidikan, Penelitian, dan Mutu: dr. Nova Maryani, MMR., Sp.An
Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Mohammad Komarudin, Sp.A, menyampaikan komitmennya untuk memimpin rumah sakit dengan menjunjung tinggi nilai profesionalisme, integritas, sinergi, dan kolaborasi.
“Tidak ada pelayanan yang baik tanpa kerja sama, dan tidak ada keberhasilan tanpa saling percaya. Kami ingin membangun tim yang memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan penuh empati,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping, dr. Ahmad Faesol, Sp.Rad., M.Kes., MMR, menyampaikan terima kasih atas amanah yang diberikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia menegaskan komitmen untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat luas.
“Kami bertekad menjadikan RS PKU Muhammadiyah Gamping sebagai rumah sakit berkelas yang tidak hanya unggul secara medis, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin,” katanya.
Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengapresiasi kontribusi besar Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan yang selama ini dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kota Yogyakarta sangat terbantu dengan kehadiran amal usaha Muhammadiyah, baik di bidang kesehatan maupun pendidikan. Perannya sangat nyata,” ungkapnya.
Senada, Bupati Sleman Harda Kiswaya menegaskan bahwa denyut nadi gerakan Muhammadiyah telah memberikan manfaat konkret bagi masyarakat, khususnya di Kabupaten Sleman.
“Di bidang pendidikan, kesehatan, dan sektor lainnya, manfaatnya benar-benar dirasakan. Karena Muhammadiyah telah mengambil sebagian tugas negara, tentu pemerintah daerah menjadi lebih ringan dalam bekerja,” ujarnya.
Ia berharap jajaran direksi yang baru dilantik mampu membawa perubahan positif bagi RS PKU Muhammadiyah, terutama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan, inovasi teknologi medis, serta penguatan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek operasional.
“Mudah-mudahan kepercayaan dan kebanggaan masyarakat terhadap Muhammadiyah terus tumbuh. Ke depan, PKU bisa menjadi rujukan utama layanan kesehatan di Yogyakarta,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran direksi yang dilantik. Ia menekankan bahwa RS PKU Muhammadiyah yang berdiri sejak 1923 merupakan bagian penting dari sejarah panjang Muhammadiyah dalam bidang pelayanan kesehatan.
“Kehadiran PKU yang awalnya berupa rumah miskin dan rumah yatim merupakan implementasi teologi Al-Ma’un. Dalam konteks kebangsaan, PKU menjadi bagian dari mata rantai kebangkitan nasional,” jelas Haedar.
Menurutnya, RS PKU Muhammadiyah merupakan cikal bakal rumah sakit pribumi yang dikelola kaum muslim, sekaligus menjadi bagian dari perjuangan bangsa dalam memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat yang saat itu masih diliputi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.
“Sejarah ini penting dipahami secara utuh. Jika sejarah dipandang parsial dan diklaim sendiri-sendiri, bangsa ini tidak akan kuat dan terintegrasi,” tegasnya.
Haedar juga menegaskan bahwa keberadaan PKU Muhammadiyah, khususnya di Yogyakarta, bukan hanya milik Muhammadiyah, melainkan milik masyarakat luas.
“PKU adalah bagian dari sejarah Yogyakarta dan sejarah Indonesia. Muhammadiyah dan Yogyakarta saling melekat dalam perjalanan sejarah kebangsaan, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Ia meyakini bahwa pemahaman sejarah yang utuh akan menjadi sumber kekuatan bangsa. Sebaliknya, jika sejarah dipahami secara terpotong-potong, maka bangsa ini akan kehilangan daya tahannya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow