Wabah Ebola Kembali Muncul, Dosen UMY Ingatkan Pentingnya Kesiapsiagaan Nasional
YOGYAKARTA — Munculnya kembali wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menjadi pengingat bagi berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kewaspadaan terhadap ancaman penyakit menular lintas batas. Hingga Rabu (24/6), wabah tersebut dilaporkan telah mencapai 1.118 kasus dengan lebih dari 291 korban meninggal dunia.
Situasi ini mendorong Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Menanggapi perkembangan tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Farindira Vesti Rahmasari, M.Sc., Ph.D., menilai kasus Ebola perlu menjadi pengingat bagi seluruh negara untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular yang berpotensi menyebar antarwilayah.
Menurutnya, meskipun karakteristik penularan Ebola berbeda dengan COVID-19, peningkatan kasus tetap perlu mendapat perhatian serius mengingat tingginya mobilitas manusia yang dapat memperbesar risiko penyebaran penyakit ke berbagai negara.
“Penularan Ebola terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jenazah penderita yang terinfeksi. Namun, ketika suatu penyakit dinilai berisiko menyebar lintas negara dan membutuhkan kerja sama internasional, hal itu menjadi sinyal bahwa dunia perlu meningkatkan kewaspadaan,” ujar Farindira, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan bahwa status PHEIC yang ditetapkan WHO tidak semata-mata menunjukkan peningkatan jumlah kasus, tetapi juga menjadi peringatan bagi setiap negara untuk memperkuat sistem deteksi dini, pelaporan, dan respons kesehatan masyarakat.
Menurut Farindira, berbagai pengalaman wabah global menunjukkan bahwa keterlambatan dalam mendeteksi maupun merespons kasus dapat memperbesar risiko penyebaran penyakit ke wilayah yang lebih luas.
Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia, Farindira menilai kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Sebagai negara kepulauan dengan banyak pintu masuk internasional, Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam mencegah masuknya penyakit menular dari luar negeri.
“Pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah terdampak perlu diperkuat, begitu pula kesiapan petugas kesehatan, prosedur rujukan, sistem kewaspadaan dini, hingga dukungan laboratorium untuk mendeteksi kasus secara cepat. Langkah-langkah tersebut penting agar respons dapat dilakukan sedini mungkin apabila ditemukan kasus yang dicurigai,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengawasan kesehatan di bandara, pelabuhan, dan jalur perlintasan internasional menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan penyakit menular lintas negara.
Lebih lanjut, Farindira menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi Ebola tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan medis. Kemampuan suatu negara menghadapi ancaman wabah sangat bergantung pada kekuatan sistem kesehatan secara menyeluruh.
Menurutnya, aspek yang perlu diperkuat meliputi sistem surveilans penyakit, kekarantinaan kesehatan, kapasitas laboratorium, perlindungan tenaga kesehatan, hingga komunikasi publik yang efektif.
“Kesiapsiagaan menghadapi wabah tidak hanya berbicara tentang cara penularan atau pengobatannya. Yang lebih penting adalah apakah sistem kesehatan mampu mengenali tanda bahaya sejak dini, melakukan pelacakan, menyediakan fasilitas yang memadai, serta memastikan koordinasi lintas sektor berjalan dengan baik. Semua komponen tersebut merupakan bagian dari ketahanan kesehatan nasional,” katanya.
Di sisi lain, Farindira mengimbau masyarakat untuk tidak merespons situasi ini dengan kepanikan berlebihan. Ia menekankan bahwa kewaspadaan harus dibangun melalui peningkatan literasi kesehatan dan kepatuhan terhadap informasi resmi yang disampaikan otoritas kesehatan.
“Status darurat kesehatan global yang ditetapkan WHO seharusnya dipahami sebagai sinyal untuk memperkuat kewaspadaan, bukan untuk menimbulkan ketakutan. Yang dibutuhkan bukan reaksi berlebihan, melainkan kesiapsiagaan yang terukur,” tegasnya.
Ia berharap pengalaman berbagai negara dalam menghadapi wabah dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk terus memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman penyakit menular di masa depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow