Ingin Tubuh Tetap Bugar Selama Puasa? Dosen Gizi UAD Bagikan Tips Menarik 

Ingin Tubuh Tetap Bugar Selama Puasa? Dosen Gizi UAD Bagikan Tips Menarik 

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan membutuhkan kondisi tubuh yang sehat dan bugar. Karena itu, menjaga asupan gizi menjadi hal penting agar tubuh tetap berenergi dan mampu menjalankan ibadah secara optimal.

Dosen Program Studi Gizi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Mustika Cahya Nirmala Dewinta, S.Gz., MPH, menjelaskan bahwa menjaga asupan gizi selama puasa bertujuan agar tubuh tetap sehat secara menyeluruh selama Ramadan.

“Selama bulan Ramadan kita tentu ingin sehat dan bugar agar bisa menjalankan ibadah dengan sebaik mungkin. Karena itu, menjaga asupan gizi menjadi salah satu kunci agar tubuh tetap optimal,” ujarnya.

Menurut Mustika, prinsip pemenuhan gizi selama Ramadan sebenarnya sama dengan hari biasa, yakni mengikuti pedoman gizi seimbang. Perbedaannya hanya terletak pada pengaturan waktu makan yang terbatas antara waktu berbuka hingga sahur.

Saat sahur, ia menyarankan agar menu makanan tetap lengkap dan mengandung sumber karbohidrat, protein, vitamin, serta serat. Sumber karbohidrat bisa berasal dari nasi, ubi, kentang, atau oat. Mi sebenarnya boleh dikonsumsi, namun tidak direkomendasikan saat sahur karena kandungan seratnya rendah.

Untuk protein, masyarakat dapat memilih sumber hewani maupun nabati. Telur menjadi pilihan yang mudah dan terjangkau, selain daging sapi, ayam, atau ikan. Protein nabati seperti tempe dan tahu juga dapat menjadi alternatif yang baik.

Selain itu, sayur dan buah perlu dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat. Mustika mengingatkan bahwa sahur yang hanya terdiri dari air putih dan kurma tidak cukup memenuhi kebutuhan gizi tubuh.

“Kalau hanya air putih dan kurma, tubuh bisa kekurangan zat gizi sehingga muncul rasa lemas dan energi tidak optimal. Meskipun porsinya kecil, sebaiknya tetap ada sumber karbohidrat, protein, dan sayur atau buah,” jelasnya.

Saat berbuka puasa, ia mengingatkan agar masyarakat tidak “lapar mata” dan menyiapkan makanan secara berlebihan. Kondisi lapar setelah seharian berpuasa sering membuat seseorang ingin makan banyak sekaligus, yang justru dapat membuat tubuh tidak nyaman.

Mustika menyarankan berbuka diawali dengan kurma dan air putih untuk mengembalikan energi tubuh secara cepat. Tiga butir kurma sudah cukup sebagai sumber karbohidrat sederhana yang mudah diserap tubuh.

Setelah itu, makan besar sebaiknya dilakukan secara bertahap, misalnya setelah menunaikan salat Magrib. Cara ini dapat membantu tubuh beradaptasi setelah seharian menahan lapar dan haus.

“Yang penting tetap memperhatikan gizi seimbang, yaitu ada karbohidrat, protein, dan sayur atau buah. Hindari makan terlalu cepat atau berlebihan karena bisa membuat tubuh kekenyangan dan tidak nyaman saat salat Tarawih,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi makanan yang terlalu manis dan tinggi lemak. Banyak orang mengira berbuka puasa harus dengan makanan manis, padahal yang dimaksud sebaiknya berasal dari gula alami seperti buah, bukan gula tambahan.

Makanan dan minuman yang mengandung kental manis, serta kue manis, atau gorengan yang berlebihan minyak sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering. Konsumsi gula tambahan juga perlu dibatasi, yakni maksimal sekitar empat sendok makan atau sekitar 50 gram per hari.

Selain makanan, kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan. Mustika menyarankan agar masyarakat tetap memenuhi kebutuhan minimal delapan gelas air mineral atau sekitar dua liter per hari.

Selama Ramadan, pola minum bisa diatur dengan dua gelas saat berbuka, dua gelas saat sahur, dan empat gelas pada malam hari setelah salat Isya hingga sebelum tidur.

“Jika ada aktivitas fisik atau olahraga, kebutuhan cairan bisa bertambah. Namun secara umum delapan gelas per hari sudah cukup untuk menjaga hidrasi tubuh,” jelasnya.

Mustika juga menyarankan agar masyarakat membatasi minuman berkafein seperti kopi dan teh karena dapat memicu pengeluaran cairan lebih cepat sehingga tubuh mudah merasa haus. Selain itu, makanan yang terlalu pedas, tinggi lemak, atau bersantan kental juga sebaiknya dikurangi karena dapat memicu gangguan pencernaan.

Agar tubuh tetap bugar selama puasa, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara asupan gizi, istirahat yang cukup, serta aktivitas fisik ringan.

“Banyak ibadah dilakukan pada malam hari, seperti tarawih, tadarus, dan tahajud. Karena itu penting mengatur waktu tidur agar tubuh tetap segar. Selain itu tetap lakukan aktivitas fisik ringan seperti jalan santai menjelang berbuka,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan momen berbuka sebagai ajang “balas dendam” setelah seharian berpuasa.

“Berbuka seharusnya bukan untuk melampiaskan rasa lapar, tetapi untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh agar kita tetap sehat dan bisa menjalankan ibadah dengan optimal,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait