UPF Ancam Kesehatan Fisik dan Mental, Pakar UMY Tekankan Perlunya Perubahan Sistemik

UPF Ancam Kesehatan Fisik dan Mental, Pakar UMY Tekankan Perlunya Perubahan Sistemik

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Konsumsi makanan _Ultra-Processed Food_ (UPF) semakin meningkat di masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa dan pekerja dengan ritme hidup serba cepat. Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. dr. Merita Arini, MMR, menegaskan bahwa lonjakan konsumsi UPF tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental.

Ia menjelaskan bahwa istilah UPF merujuk pada kategori tertinggi dalam sistem _NOVA Food Classification_ yang dikembangkan ilmuwan asal Brasil. UPF mencakup makanan yang diproses secara intensif menggunakan teknik industri sehingga bentuk dan struktur aslinya hampir hilang.

“Makanan ultra-proses sudah sangat jauh dari bahan alaminya. Kandungan asli tinggal sedikit, sementara zat tambahan seperti aditif, perasa, pengawet, dan bahan kimia lainnya justru mendominasi. Pada _crackers_ atau snack, misalnya, bahan utamanya seperti kentang bisa tinggal hanya lima persen,” jelasnya dalam wawancara daring, Rabu (26/11).

Berbagai penelitian _meta-analisis_ menunjukkan konsumsi UPF berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga kanker. Dampaknya bahkan meluas ke kesehatan mental.

“Ada penelitian yang menunjukkan keterkaitan UPF dengan gangguan tidur, kecemasan, hingga gangguan psikologis lainnya. Hal ini karena UPF bersifat pro-inflamas. Nutrisi rendah, kalori tinggi, kadar garam tinggi, serta bahan kimia tambahan menyebabkan _low-grade inflammation_ kronis di tubuh,” papar dr. Merita lebih lanjut.

Meski penelitian pada manusia masih berkembang dan membutuhkan bukti tambahan, pola konsistensi risiko yang ditunjukkan berbagai studi memperlihatkan bahaya jangka panjang jika UPF dikonsumsi berlebihan. Peradangan kronis ini menghambat proses penyembuhan alami tubuh, berbeda dengan makanan alami seperti buah, sayur, kacang, dan bahan segar yang justru bersifat anti-inflamasi.

Karena itu, perubahan pola makan menjadi kebutuhan mendesak. Namun, menurut dr. Merita, perubahan tidak bisa dibebankan hanya pada individu.

“Tidak bisa langsung menyuruh masyarakat berubah begitu saja. Banyak faktor harus bergerak bersama. Dalam teori _chronic care model_, perubahan hanya terjadi jika sistemnya mendukung,” ujarnya.

Edukasi masyarakat menjadi faktor penting, terutama di era media sosial yang sangat mempengaruhi tren gaya hidup. Menurutnya, gaya hidup sehat perlu dipopulerkan sebagaimana tren bersepeda, lari, atau angkat beban yang sempat berkembang luas.

Selain itu, pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk menekan konsumsi UPF, misalnya melalui penerapan _sugar tax_ atau regulasi iklan makanan tidak sehat. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu masyarakat membuat pilihan makan yang lebih sehat dalam jangka panjang.

“Melihat pasar UPF yang terus berkembang, intervensi sistemik sangat diperlukan agar pilihan sehat dapat menjadi kebiasaan masyarakat,” tutupnya. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait